
Adalah seorang Nadine Chandrawinata yang terpilih mewakili Indonesia dalam ajang pemilihan Miss Universe 2006 di Los Angeles. Blasteran Jerman-Indonesia ini memang amat cantik, badannya indah tinggi semampai. Kalau urusan otak atau pribadinya saya tidak tau, tapi harusnya tidak buruk bila bisa terpilih menjadi Putri Indonesia. Walau ada yang bertanya '
where was she when God was dishing out brains?' Anggaplah yang berujar demikian sekedar sirik.
Tapi terus terang saya miris melihat
wawancaranya. Bahasa Inggrisnya termasuk bahasa Inggris rata² orang Indonesia, yang tidak bisa dibilang bagus. Tapi ia cukup PD untuk diwawancara dalam Bahasa Inggris, sesuatu yang bisa dibilang nilai positifnya Nadine. Hanya saja jawabannya atas pertanyaan standar pun tampak tidak ada persiapan. Sungguh sayang. Padahal katanya selama Nadine dikarantina tiga bulan ia mendapat tutor native speaker untuk menggenjot kemampuan berbahasanya. Menurut gosip, tiap hari ia mendapat jatah 3 jam berbahasa Inggris. Nah, disini saya tidak mengerti. Dengan basis yang kurang memadai seperti ini mengapa hanya 3 jam sehari ia dipaksa berbahasa Inggris? Mengapa tidak hanya 3 jam sehari berbahasa Indonesia misalnya? Saya rasa sebaiknya justru 3 jam sehari ia dilatih untuk public speaking, karena katanya ia tidak biasa public speaking. Kan sayang, ada kesempatan menunjukkan ke dunia Indonesia mempunyai wakil yang berbobot disia-siakan hanya karena persiapan yang kurang optimal.
Walau di media Indonesia disebut bahwa Nadine fasih berbahasa Inggris (yang kita tau aslinya bagaimana), Jerman dan Indonesia, menurut sepupunya di salah satu mailing list:
She speaks German better than English.......
btw Nadine anaknya ramah dan sederhana....., murah hati dan sabar... dari
kecil banyak temennya....dulu sering diusilin org ...krn fisiknya beda...
I know her well since she is my cousin so plzzz ... vote for her
Nah, kalau memang lebih fasih berbahasa Jerman, mengapa aset tersebut tidak digunakan? Paling tidak, kalau memang fasih kan kesalahan konyol seperti menyebut
Indonesia is a beautiful city. Pilihan lain adalah menggunakan bahasa Indonesia, tidak usah malu pakai penterjemah daripada memberikan jawaban yang malu²in. Hal ini juga dilakukan oleh Putri negara lain seperti Cina.
Terlepas dari kontroversi tentang pilihannya menggunakan bikini, yang menurut saya tidak ada salahnya, serta wawancara bahasa Inggrisnya, saya memilih tidak menghujat Nadine walau hal itu amat mudah dilakukan. Saya justru mengharapkan Nadine mampu menembus paling tidak 10 besar. Lumayankan, bila ada berita baik tentang Indonesia di kalangan Internasional setelah sekian lama hanya mendengar berita tentang korupsi, atau bencana alam saja.
Lagi pula promosi Indonesia dengan cara ikut pemilihan Miss Universe lebih beradab daripada
ide Yusuf Kalla menjaring turis ArabJadi tunggu apa lagi, seperti kata sepupu Nadine: Vote for her!